Jumat, 12 Januari 2018

 http://www.mediafire.com/file/bpedx2ve6d24r28/Prabu+Dylan+%2B+Denda+Omnivora+-+Gundul+Gundul+Pacul+%28Sunan+Kalijaga%26TemanTeman+Cover%29+.mp3


Prabu Dylan Jacobuwono Nugroho bisa dibilang anak langka di Indonesia, dan barangkali mungkin di dunia. Pasalnya siswa kelas VI Madrasah Ibdtidaiyah Negeri I Manisrejo, Kota Madiun, sangat mahir memainkan gitar, mendalang, dan main disc jockey (DJ). Ketiga kesenian yang dikuasainya tidak datang secara bersamaan. Kepada Kompas.com. Dylan menjelaskan bahwa mulai mengenal dan belajar gitar dari bapaknya, Arief Sulistyo Eko Saputro (SES), seorang musisi, lalu kemampuan mendalangnya, dia peroleh dari seorang dalang, Ki Supriyanto, yang biasa manggung di RRI Madiun, sementara yang sangat mencengangkan adalah belajar kemampuan ber-DJ hanya melihat di You Tube.

Wis, luar biasa kemampuan anak ini, sekali-kali Presiden Jokowi harus mengundang dia untuk tampil di istana kepresiden. Pastinya dijamin Jokowi dan tamu undangan lainnya akan takjub melihat bukti kehebatan anak cerdas, yang mampu memainkan ketiga kesenian dalam satu pertunjukkan.

Kehebatan berkesenian Dylan tentu tidak ada artinya, bilamana tidak melalui bimbingan ayahnya, yang dikenal selain sebagai musisi, juga sebagai kolektor gitar. Prinsip bisa karena biasa yang diajarkan ayahnya mendorongnya untuk terus berlatih, hingga akhirnya Dylan bisa berani unjuk kemampuan di depan publik.

Kini, berbagai pentas seni sudah dia tunjukan, mulai dari ruang lingkup sekolahnya, kemudian berlanjut ke tingkat nasional, hingga internasional. Sehingga dikenal sebagai dalang metal. Sebuah julukan sangat istimewa buat anak seumurannya, yang semestinya melewatkan seperempat usianya untuk bermain dengan teman sebayanya.

Dengan menyandang julukan dalang metal, hampir pasti kesibukan berkesenian tambah padat. Terakhir untuk skala tingkat nasional saja, Dylan unjuk kebolehan di Pesona Sanggigi International Jazz and World Music Festival, Agustus lalu, di Pantai Senggigi, Lombok. Sedangkan untuk even internasional, Dylan tercatat pernah berkolaborasi tigaseni di Singapura, Bangkok, Vietnam, Kamboja dan Hong Kong.

Keuntungan mendapatkan julukan Dalang Metal sangat berarti, karena dengan julukan tersebut membuatnya mengenal musisi idolanya Iwan Fals. Bahkan bukan sekedar mengenal semata, tetapi jika tidak ada halangan, dia tampil dengan idolanya, Oktober nanti, pada acara Grebek Suro di Ponorogo.

Kesibukan yang super padat bisa dilalui dengan sempurna berkat mampu menjaga stamina kemampuan fisiknya. Cara yang paling murah untuk menjaga stamina fisik dengan berenang, yang memang sudah menjadi hobinya sejak kecil. Kalau sudah berada di kolam renang, sejenak segala kesibukannya seolah-olah tidak ada.

Kehebatan Dylan bukan sekedar dibuktikan di atas di panggung, tetapi anak pertama dari dua bersaudara ini juga telah menghasilkan splitalbum bernama "The Fear of Living" berkolaborasi dengan bandunderground asal Perancis, Disposible Heroes. Isi album tersebut pada cerita wayang diringi musik metal dan elektronik berupa, tiga fragmen cerita wayang kuno. Tiga fragmen itu, diantaranya "Minongko Wiwitaning Carito", "The Demon Inside","The Dragon and The Angel". (Kompas.com)

Kehebatan Dylan sudah tidak diragukan lagi. Kehebatan yang diperoleh Dylan merupakan hasil hubungan mesra antara bakat alam dengan bimbingan orang tua. Maka dari itulah bila ada anak anda memiliki bakat seperti Dylan. Peran orang tua harus membimbingnya dengan baik, dan tentu saja iringan doa untuk anaknya yang tak kalah penting.


-
Denda Omnivora mungkin nama yang lebih enak didengar di telinga dan mungkin sedikit mengurangi kapasitas memori di otak kita.Terlahir dengan ketidakpuasan apa yang dia lihat di dunia ini. Diwaktu kecil sempat berpindah-pindah dan kemudian menetap di kota Madiun,membentuk The Ripper Punster, dan sempat merekam beberapa lagu lalu ikut dalam sebuah kompilasi hardcore.Setelah selesai sekolah,dia memutuskan untuk meneruskan hidupnya di Yogyakarta. Gairah pemberontak dan egoisme tidak bisa lepas lagi dari hatinya.
Beberapa tahun di Jogja seperti fasilitas baginya untuk menuangkan segala pertunjukkan dan konser yang ada di kepalanya. Dom 65 mungkin salah satu tempat penuangan konser yang ada di kepalanya. Namun karirnya di Dom 65 tak berlangsung lama,mungkin karena jenuh atau perbedaan visi. Tapi tidak berhenti begitu saja, Denda Omnivora masih mencari penuangan segala kesakitan, kegembiraan, munafik, egoisme, idealisme, narsisisme,dan propaganda. Perenungan-perenungan membuahkan Denda Omnivora and The White Liar Band. The show’s must go on dude.

 https://www.djarumcoklat.com/article/the-show-must-go-ondude